Bagaimana Cara Menentukan Fee Marketing yang Sesuai dengan Nilai Jasa?
Menentukan fee marketing yang pas itu penting. Jangan sampai terlalu murah dan bikin rugi, tapi juga jangan kelewat mahal sampai bikin calon klien mundur. Biar nggak salah langkah, perlu cara yang tepat supaya fee yang ditawarkan sesuai dengan nilai jasa yang diberikan.
Cara Menentukan Fee Marketing yang Pas
Banyak faktor yang memengaruhi harga jasa atau fee marketing. Mulai dari biaya operasional, standar pasar, sampai jenis klien yang ditargetkan.
Kalau asal pasang harga terlalu tinggi, bisa jadi usaha malah nggak berkembang. Makanya, perlu strategi yang matang biar fee tetap kompetitif dan tetap cuan.
1. Hitung Biaya Operasional
Sebelum menentukan fee marketing, hitung dulu semua biaya yang dikeluarkan untuk menjalankan layanan. Termasuk di dalamnya adalah biaya tenaga kerja, alat pemasaran, iklan berbayar, perangkat lunak, hingga biaya administrasi. Jangan lupa hitung biaya tidak langsung seperti listrik, internet, dan keperluan lainnya.
Pastikan fee yang ditetapkan bisa menutup semua biaya ini. Jika tidak, bisnis bisa merugi. Sebaliknya, jika terlalu tinggi tanpa justifikasi yang jelas, bisa sulit bersaing di pasar.
Baca juga: Berapa Biaya Marketing yang Pas untuk Bisnis Kecil? Simak Penjelasannya di Sini!
2. Gunakan Metode Penetapan Harga yang Tepat
Ada beberapa cara untuk menentukan fee marketing. Pilih yang paling sesuai dengan model bisnis dan target klien.
Berbasis Waktu
Fee dihitung berdasarkan jumlah jam kerja atau durasi proyek. Cocok untuk layanan yang membutuhkan analisis yang lebih dalam, seperti strategi branding atau kampanye jangka panjang. Pastikan tarif per jam sudah mencakup biaya operasional dan keuntungan.
Contoh:
Seorang freelancer digital marketing menawarkan layanan strategi media sosial.
Biaya operasional bulanan: Rp5.000.000 (termasuk internet, perangkat lunak, listrik, dll.)
Target penghasilan bulanan: Rp15.000.000
Kapasitas kerja: 100 jam per bulan
Perhitungan tarif per jam:
(Rp5.000.000 + Rp15.000.000) ÷ 100 = Rp200.000 per jam
Jika sebuah proyek membutuhkan 20 jam kerja, maka fee yang ditawarkan:
20 jam × Rp200.000 = Rp4.000.000 per proyek
Cocok untuk proyek dengan durasi tertentu seperti strategi pemasaran atau optimasi media sosial.
Berbasis Hasil
Fee marketing ditentukan berdasarkan pencapaian target tertentu, misalnya jumlah leads, peningkatan penjualan, atau engagement media sosial. Model ini menarik bagi klien karena mereka hanya membayar saat hasil terlihat. Tapi, perlu strategi matang agar tetap menguntungkan.
Contoh:
Agensi digital marketing membantu bisnis mendapatkan leads melalui iklan Facebook Ads.
Target klien: 500 leads per bulan
Fee per lead: Rp50.000
Jika berhasil mencapai target, total fee:
500 × Rp50.000 = Rp25.000.000
Jika hanya mendapatkan 400 leads, maka fee yang dibayarkan:
400 × Rp50.000 = Rp20.000.000
Model ini cocok jika klien ingin membayar berdasarkan pencapaian tertentu, misalnya jumlah leads, engagement media sosial, atau peningkatan penjualan.
Retainer Fee
Klien membayar biaya tetap dalam periode tertentu, misalnya bulanan atau tahunan. Cocok untuk layanan yang sifatnya berkelanjutan, seperti manajemen media sosial atau digital ads. Model ini memberi kestabilan pemasukan, tapi harus dibarengi dengan layanan yang konsisten dan berkualitas.
Contoh:
Seorang spesialis social media management menawarkan paket layanan bulanan.
Paket layanan:
- 15 posting per bulan
- Manajemen engagement (balas komentar & DM)
- Laporan performa bulanan
Harga paket:
Basic: Rp3.000.000/bulan (untuk bisnis kecil)
Premium: Rp7.000.000/bulan (untuk brand besar dengan strategi lebih kompleks)
Dengan model ini, klien membayar biaya tetap setiap bulan untuk mendapatkan layanan berkelanjutan. Cocok untuk manajemen media sosial, email marketing, atau iklan digital jangka panjang.
3. Bandingkan dengan Harga Pasar
Lakukan riset untuk mengetahui berapa harga yang ditawarkan kompetitor. Cek layanan yang mereka berikan dan bandingkan dengan yang kita kelola. Jika menawarkan nilai tambah seperti strategi unik atau layanan yang lebih personal, fee bisa lebih tinggi.
Jangan hanya ikut-ikutan harga pasar tanpa perhitungan. Pastikan fee marketing yang ditetapkan benar-benar mencerminkan kualitas jasa yang diberikan.
4. Sesuaikan dengan Target Klien
Pahami siapa target klien yang ingin dijangkau. Jika menyasar bisnis besar atau brand ternama, fee marketing bisa lebih tinggi karena mereka biasanya membutuhkan strategi yang lebih kompleks.
Sebaliknya, jika targetnya UMKM atau bisnis kecil, bisa menawarkan paket harga yang lebih fleksibel. Misalnya, sistem paket layanan dengan harga lebih terjangkau tapi tetap menguntungkan.
5. Evaluasi dan Sesuaikan Secara Berkala
Pasar selalu berubah. Biaya operasional bisa naik, persaingan semakin ketat, dan kebutuhan klien juga berkembang. Karena itu, fee marketing harus dievaluasi secara berkala.
Cek apakah fee yang ditetapkan masih sesuai dengan nilai jasa. Jika layanan berkembang atau ada tambahan skill dan tools baru, pertimbangkan untuk menaikkan harga. Komunikasikan perubahan ini dengan klien secara jelas agar mereka memahami manfaat yang didapat.
Baca juga: 6 Teknik Digital Marketing yang Paling Sering Digunakan
Menentukan fee marketing bukan sekadar soal angka, tapi juga soal keseimbangan antara nilai jasa dan daya saing di pasar. Kalau terlalu rendah, bisa merugikan. Kalau terlalu tinggi tanpa justifikasi yang jelas, bisa bikin klien ragu.
Harga yang pas datang dari perhitungan yang matang, riset pasar, dan pemahaman terhadap target klien. Jangan ragu untuk menyesuaikan fee seiring waktu, terutama jika skill dan layanan terus berkembang. Yang penting, pastikan fee tetap menguntungkan dan sepadan dengan usaha yang dikeluarkan.
0 comments
Apa pendapat Anda?